Saat ini, sektor properti di Indonesia berada dalam fase pemulihan yang didukung oleh sinergi kuat antara kebijakan pemerintah dan bank sentral. Dua kebijakan utama, yaitu suntikan dana Rp 200 triliun ke perbankan BUMN dan penurunan suku bunga BI, secara langsung menciptakan kondisi yang sangat kondusif bagi pertumbuhan properti.
Sinergi Kebijakan dan Dampaknya pada Properti
1. Sinergi Kebijakan:
- Dana Rp 200 Triliun ke Bank BUMN: Kebijakan ini meningkatkan likuiditas perbankan secara signifikan. Dengan dana yang melimpah, bank tidak perlu “perang bunga” untuk menarik dana deposito, yang pada akhirnya menekan biaya pinjaman.
- Penurunan Suku Bunga BI: Keputusan Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan dan suku bunga Deposit Facility secara agresif memberikan sinyal jelas kepada perbankan untuk tidak hanya menyimpan dananya di bank sentral, tetapi juga menyalurkannya ke sektor riil.
2. Dampak pada Pasar Properti:
- Suku Bunga KPR Lebih Rendah: Penurunan suku bunga dari pemerintah dan BI secara langsung membuat bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) ikut turun. Hal ini secara efektif meningkatkan daya beli dan membuat cicilan rumah menjadi lebih terjangkau, memicu minat beli yang lebih tinggi dari masyarakat.
- Penyaluran Kredit Lebih Gencar: Dengan likuiditas yang kuat dan dorongan dari kebijakan moneter, bank-bank BUMN kini lebih aktif menyalurkan KPR, termasuk untuk program rumah subsidi (FLPP). Ini membantu mengurangi backlog perumahan dan memenuhi kebutuhan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
- Meningkatnya Kepercayaan Investor: Kebijakan proaktif ini menciptakan sentimen positif di pasar. Investor, baik domestik maupun asing, melihat potensi keuntungan dari investasi di sektor properti yang sedang bergairah, yang pada gilirannya dapat meningkatkan harga properti.
Kondisi Pasar di Lapangan
Per September 2025, pasar properti menunjukkan kondisi yang stabil namun tidak merata. Pemulihan terjadi secara bertahap, didorong oleh faktor-faktor di atas, serta insentif pajak pemerintah dan kemudahan digitalisasi.
Meskipun demikian, ada tantangan yang perlu dicermati:
- Daya Beli Menengah Melemah: Segmen properti di bawah Rp 1 miliar masih menghadapi tantangan karena daya beli yang belum sepenuhnya pulih.
- Sektor Hunian Mewah Tangguh: Berbeda dengan segmen menengah, pasar hunian mewah dan premium tetap kuat dan stabil, terutama diminati oleh kalangan Gen Z dengan daya beli yang tinggi.
- Tren Permintaan Properti Berubah: Konsumen saat ini lebih memprioritaskan hunian dengan lokasi strategis, konsep berkelanjutan atau “hijau”, serta desain yang fleksibel dan multifungsi.